MEGONO PEKALONGAN PECAHKAN REKOR MURI


Sejak pukul 08.00 pagi, obyek wisata Linggoasri mulai dibanjiri pengunjung yang hendak menyaksikan arakan megono gunungan dalam rangka memeriahkan tradisi syawalan 1427H. Acara dimeriahkan dengan kesenian tari dari sanggar pramesthi, silat rebana dari Api-api Wonokerto dan hiburan orkes dangdut Nirwana Music.


Dokumentasi PIAGAM MURI

Prosesi arak-arakan megono gunungan diawali dari depan Kantor Pengelola obyek wisata Linggoasri. Di depan sendiri sepasang gajah Linggoasri mulai bergerak diringi oleh group kesenian silat rebana yang mengerahkan sebanyak 40 orang personel terdiri dari penari 30 orang, penabuh rebana 10 orang, pesilat 10 orang, dibelakangnya rombongan Bupati Pekalongan, Ketua DPRD, Pimpinan Muspida, Sekda dan para Asisten berjalan secara beriringan.

Didepan areal taman Linggoasri iring-iringan disambut oleh Megono Gunungan yang diusung oleh 16 orang. Menurut Kepala UPT Linggoasri M. Mansyur, tinggi megono gunungan 2 meter, diameter 4 meter dan berat keseluruhan bahan yang dihabiskan adalah 3 kuintal.

Dari lokasi taman megono gunungan diarak bersama-sama menuju areal parkir/perkemahan Linggoasri yang tempatnya cukup luas. Disini rombongan arak-arakan telah disambut oleh Kepala Badan/Dinas/Kantor/Bagian, Camat, dan masyarakat pengunjung yang sudah berjubel menunggu. Dilokasi tersebut megono gunungan bergabung dengan sajian nasi megono bungkus (dibungkus dengan daun pisang) sebanyak 7.500 bungkus.

Nasi megono bungkus tersebut terjejer rapi dalam bentuk gunungan-gunungan kecil, dengan jumlah isi tiap gunungan bervariasi antara 250 – 300 buah. Nasi megono bungkus sebanyak tersebut beserta megono gunungan setelah acara prosesi akan dibagikan secara gratis kepada masyarakat dan pengunjung yang hadir.

Dilapangan parkir inilah iring-iringan disambut dengan tari Rebana Santri yang diperagakan secara rampak dan lemah gemulai oleh 9 orang penari dari sanggar Pramesthi asuhan Ibu Eni dan Bapak Suhadi dibawah binaan Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Pekalongan. Musik gamelan jawa dari para pengrawit dan pesinden dari Rejosari mengiringi secara kolaborasi irama rebana yang dimainkan oleh para penari secara harmonis.

Dalam acara tersebut, sebagaimana yang dilaporkan oleh pihak panitia penyelenggara, Kepala Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan Moh. Afib, S.Sos,kepada Bupati Pekalongan, menyampaikan bahwa kegiatan megono gunungan dalam rangka memeriahkan tradisi syawalan ini merupakan wujud dari ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT setelah sebulan lamanya berpuasa dan merayakan hari kemenangan pada hari raya Idul Fitri. Bersamaan dengan acara tradisi syawalan ini pula acara megono gunungan dilaksanakan dengan maksud untuk menggali potensi budaya tradisi yang hidup berkembang di masyarakat dan menumbuhkan kesadaran berpariwisata dan berkebudayaan sebagai modal dasar peningkatan percepatan di sektor ekonomi masyarakat. Menurut M. Afib, S.Sos tradisi megono gunungan tahun 2006 ini lain dari tahun-tahun sebelumnya karena menghadirkan Tim dari MURI untuk mencatat rekor pada tradisi Megono Gunungan dan pembagian nasi megono bungkus.

Dalam sambutannya Bupati Pekalongan Dra.Hj. Siti Qomariyah, MA menyatakan bahwa megono adalah makanan khas daerah Pekalongan yang bahannya terdiri dari buah nangka muda dicacah lembut dikukus bersama urapan kelapa dan bumbu-bumbu rempah-rempah sehingga rasanya khas. Namun demikian bahan megono tidak hanya dari nangka muda saja karena dapat pula dari bahan bambu muda “bung”, dari buah pepaya, dan sayur kacang panjang. Menurut Beliau, bilaperlu diadakan penelitian dan pengembangan lebih lanjut oleh para kalangan ahli gizi dan ahli kesehatan sehingga megono dapat tampil lebih bergizi dan menarik, namun demikian jika tetap mempertahankan seperti apa adanya sebagaimana megono yang dikenal pada jaman dahulu tentunya apa yang tersaji sudah cukup untuk menjadikan megono sebagai ciri khas makanan dari daerah Pekalongan yang perlu diperkenalkan kepada masyarakat luas di luar Pekalongan.

Bupati memberikan makna tradisi megono gunungan sebagai suatu pesan bahwa jika kita bersatu, terusun rapi, akan kuat dan mencapai cita-cita setinggi mungkin (setinggi gunung) seperti yang diharapkan. Disitu terdapat tanggung jawab dimana yang paling atas dapat tegak karena disangga oleh susunan bawah dan apabila terjadi sesuatu maka yang akan diambil dulu adalah yang diatas seperti para pejabat dan kepala instansi sebagaimana terpotongnya suatu gunungan nasi tumpeng. Satu dengan bagian yang lain saling terekat agar dapat berdiri kuat sebagaimana nasi tumpeng dan megononya. Bupati berharap mudah-mudahan setelah hari raya Idul Fitri tahun ini silaturahim dan komunikasi terjalin dengan baik sebagai pertanda perakatan diri dan sekaligus Bupati mengajak masyarakat secara bersama-sama membangun Kabupaten Pekalongan dengan bergotong royong, hati tulus dan saling memaafkan.

Dari hasil pencatatan MURI terhadap jumlah nasi bungkus yang diusulkan sebanyak 7.500 bungkus ternyata setelah dihitung oleh Tim MURI dapat tersaji sebanyak 7.756 bungkus. Tim MURI yang secara resmi diwakili oleh Ibu Wida menyerahkan piagam penghargaan bernomor : 2187/R.MURI/X/2006 kepada Pemerintah Kabupaten Pekalongan atas prestasi penyajian nasi megono khas pekalongan dengan jumlah terbanyak. Piagam penghargaan diterima Bupati Pekalongan mewakili Pemerintah Kabupaten Pekalongan, dan penerimaan piagam penghargaan dari MURI untuk pihak sponsor pendukung acara yakni dari perusahaan HM. Sampoerna area pekalongan dan Harian Radar.

Puncak prosesi megono gunungan dilakukan pemotongan tumpeng oleh Bupati Pekalongan dan diserahkan kepada Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan, sebagai tanda dapat dibagikannya nasi megono kepada masyarakat luas. Tepuk tangan meriah menandai acara makan nasi megono bersama-sama. Kontan saja seluruh masyarakat yang hadir segera menyerbu megono gunungan dan nasi bungkus yang telah disediakan gratis secara beramai-ramai. Suasana sungguh meriah dan masyarakat mulai berebutan. Dalam hitungan sekejap nasi bungkus sebanyak 7.756 bungkus langsung ludes.

Diakhir acara, masyarakat disuguhi hiburan orkes dangdut “Nirwana” tidak jauh dari lokasi tenda kehormatan dan lokasi pembagian nasi tumpeng di kawasan hutan pinus area parkir taman wisata Linggoasri (Diambil dari website pekalongankab.go.id)

About muhal

Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FT UNY

Posted on November 6, 2006, in Seputar Pekalongan. Bookmark the permalink. 14 Comments.

  1. Pekalongan emang terkenal megononya, enak coi… goog luck for pekalongan, ayo terus majukan kabupaten pekalongan

  2. Pekalongan is pekalongan. OPEC is orang pekalongan, viva pekalongan… kedungwuni is kedungwuni viva kedungwuni

  3. pekalongan is a nice city in central of Java. I like pekalongan especially to the pPople. I like to eat megono for breakfast with tempe… I want to pekalongan next time…

  4. Ngambil darimana Oom beritanya, langsung atau hanya plagiat.? Eh.. sorry cuma tanya, sebabe koq sama di situs nya Pekalongan [pekalongankab.go.id].

  5. Emang itu berita isinya sama persis hanya tata letaknya saja yang beda
    Kan di bawah ada tulisan berita diambil dari website pekalongankab.go.id

    Di blog dan website mengambil tulisan orang lain diperbolehkan asalkan sumbernya dituliskan. Demikian penjelasan untuk mas Permadi terima kasih atas masukannya mas Permadi.

    Justru saya mempopulerkan tulisan ini… Maaf jika tidak berkenan…

  6. pekalongan kota santri, kota batik, kota harapan itu aku pernah baca apa benar ini semboyan kota pekalongan???

  7. pekalongan is the best…..maju untuk pekalongan…konco2 wong pekalongan ayo do muleh mbangun pekalongan biar tambah maju……

  8. pekalongan, saya kuangeeen buanget sama nasi megono.I love pekalongan, I love tauto & I love megono

  9. pekalongan, saya kuangen banget megononya………saya udah 1 bulan tidak makan megono.

  10. pekalongan emang sak pore’walau cuman kota kecil tapi jangan salah makananya Makyus’makyus Mung lha itu kurang publikasinya
    go pekalongan jaya terus?

  11. Kwagean.. Kwagean Wonopringgo coy

  12. Megönö emang nuikmat rasany tiada dùany.. Palagi sm tempé goreng mak nyuss.. Mau dong d paketin megonony k bantul jogjakarta cz q lg liburan thn baru d bntul. Lam smua tux wrg pekalongan. Merdeka..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: