Batik Pekalongan Pecahkan Rekor Dunia


Diambil dari Harian Sinar Harapan

Tidak sia-sia Pekalongan menjadi sentra batik. Lantaran tekad para pencinta batik yang tergabung dalam Paguyuban Pencinta Batik Pekalongan, mereka menggelar Festival Batik Pekalongan pada tahun 2003 dan 2005. Kerja keras itu membuahkan catatan spektakuler. Pada festival tahun 2005, sebanyak 1.000 pembatik menyelesaikan pembatikan 1.200 meter persegi kain. Hasil itu tercatat sebagai batik terbesar di dunia yang dicatat secara resmi oleh Guinness World Records Ltd.

“Guinness World Records Ltd mengirimkan sertifikat pemecahan rekor dunia untuk kategori batik terbesar (the largest batik) kepada kami, Paguyuban Pencinta Batik Pekalongan beberapa hari lalu. Itu berarti penghargaan tersebut kami terima setelah dua tahun festival berlalu,” kata Ketua Panitia Festival Batik Pekalongan 2005 Romi Oktabirawa, Minggu (25/3), di Pekalongan.
Lembaga pencatat rekor dunia yang berpusat di London itu memutuskan Paguyuban Pencinta Batik Pekalongan menerima sertifikat itu karena telah membatik kain sepanjang 1.200 meter persegi (setara 12.916 kaki) oleh 1.000 pembatik tulis berikut pewarnaannya dalam waktu satu hari. Pemecahan rekor terjadi pada acara “Batik On The Road”, 16 September 2005, sebagai salah satu rangkaian Festival Batik Pekalongan 2005 yang bertemakan ”Dari Pekalongan Membatik Dunia”.
“Sebagai pencinta batik Pekalongan, kami benar-benar bangga. Kami memang sangat mengharapkan dunia akan selalu mengingat Pekalongan karena batiknya. Semua orang akan menyebut Pekalongan bila berbicara batik,” tutur Romi.
Rekor dunia sebelumnya diraih Sarkasi Said dari Singapura tahun 2003 yang membatik 100 meter batik selama 9 1/2 jam.
Romi bercerita, pada awalnya Panitia Festival Batik Pekalongan 2005 berkirim surat listrik ke bagian verifikasi Guinness World Records Ltd. Dengan mengantongi nomor identifikasi klaim 137068 dan nomor keanggotaan 125649.
Romi sebagai ketua, lalu M Ani Sofyan (video cameramen) dan Arief Wicaksono (still photo), didukung kesaksian Nusyirwan Tirtaamidjaja (Iwan Tirta, batik artisan), Roy Suryo Noto Diprojo (ahli multimedia) dan Larasati Suliantoro Sulaiman (dosen filsafat estetika Universitas Gadjah Mada-Yogyakarta) menandatangani persetujuan dengan pihak Guinnes World Records Ltd. Dokumentasi kliping liputan dari media cetak dan elektronik disertakan. Diperkuat juga dengan dokumen audiovisual dan fotografi.

Gelar Festival Lagi
Humas Paguyuban Pencinta Batik Pekalongan Djudjur T Susila menambahkan, “Enam bulan sejak September 2005 itu, panitia menerima email dari Guinness World Records Ltd bahwa pengajuan kami disetujui. Namun, sertifikat itu baru kami terima beberapa waktu lalu.”
Djudjur benar-benar bersyukur dengan penghargaan itu. Dibanding dengan kota-kota lain, katanya, budget city branding dan branding batik dari inisiatif masyarakat, oleh, dan untuk masyarakat Pekalongan adalah yang paling murah. Sebagai pembanding adalah promosi kota Jogja Never Ending Asia, atau Enjoy Jakarta, juga Solo The Spirit of Java dan lain-lainnya yang menghabiskan dana banyak dan dimotori pemerintah kota dan menggandeng konsultan marketing (elitis).
“Pekalongan lain. Semua ide dan biaya itu murni dari masyarakat. Orang pemerintahan hanya sebagai suporter,” katanya.
Yang dimaksud Batik Pekalongan adalah batik yang berasal dari Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan. Dua daerah ini memang menjadi sentra batik pesisiran. Kota Pekalongan memiliki 608 pengusaha dengan 5.821 tenaga kerja dari 240.000 penduduk. Kabupaten Pekalongan mempunyai 2.000 unit usaha dengan tenaga kerja sekitar 10.000 dari 850.000 penduduknya.
Djudjur mengatakan pada tahun 2007 ini pencinta batik Pekalongan kembali akan menggelar Festival Batik Pekalongan 2007 dengan tema “Pesta Batik Dunia”. (su herdjoko)

About muhal

Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FT UNY

Posted on April 2, 2007, in Seputar Pekalongan and tagged , . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. Karena blog ini masih dalam status unsuspend oleh WordPress jadi maaf gak bisa update…
    Sementara pindah ke http://elektro.uny.ac.id/muhal

  2. emang mantap batik pekalongan itu…
    ga ada duanya…

  3. Belum punya bus batik kyk solo kan??
    SOLO THE CAPITAL OF BATIK

  4. Pekalongan, Solo dan Yogyakarta mempunyai budaya batik yang sudah mengakar dari jaman dulu hingga sekarang…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: